Kamis, 16 Februari 2012

Filsafat Eksistensialisme - Martin Heidegger



FILSAFAT EKSISTENSIALISME
MENURUT M. HEIDEGGER

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Dosen : Drs. Usman S,S



Disusun Oleh:
Prahesti Surani (10411084)
Kelas: PAI-B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN
Dalam filsafat, telah dibahas bahwa dalam garis besarnya filsafat terbagi dalam 3 cabang. Teori pengetahuan yang membicarakan tentang cara memperoleh disebut dengan sistematika epistemologi, dan yang membicarakan tentang hakikat pengetahuan adalah sistematika ontologi, sedangkan yang membicarakan guna atau manfaat pengetahuan adalah sistematika axiologi.
Filsafat sebagai ilmu pengatahuan yang kita pelajari sekarang ini sering nampak sukar, karena memang mengandung pandangan-pandangan yang muluk-muluk yang dalam-dalam dan sukar dimengerti. Akan tetapi hal ini tidaklah berarti bahwa filsafat itu lalu tidak ada artinya bagi kita, justru sebaliknya. Karena yang dipersoalkan dalam filsafat itu ialah: diri kita sendiri. Filsafat adalah “eksistensial” sifatnya, erat hubungannya dengan hidup kita sehari-hari, dengan adanya manusia sendiri. Hidup kita sendirilah yang memberi bahan-bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasar dan berpangkal pada diri kita yang konkrit, pada diri kita yang hidup di dalam dunia dengan segala persoalan-persoalan yang kita hadapi.
Apabila di dalam teori terdapat teori yang macam-macam dan sukar maka hal itu maksud dan tujuannya tidak lain hanya ingin menerangkan kenyataan yang konkrit dan real yang kita alami di dunia kita. Pada waktu sekarang ini makin banyak dititikberatkan pada sifat eksistensial bahwa kita dalam berfilsafat  harus berpangkal pada situasi diri kita sendiri di dalam dunia ini.
Sifat eksistensial inilah yang dijadikan dasar dalam aliran filsafat “Eksistensialisme” yang berkembang pada abad ke-20 ini.   Di pembahasan berikut ini kita akan membahas tentang eksistensialisme.
 
Bografi
 




Martin Heidegger adalah seorang filsuf Jerman yang dipekerjakan ide Husserl tentang fenomenologi dalam upaya untuk lebih memahami sifat "Menjadi" - yaitu, pertanyaan tentang ontologi. Memang, menurut Heidegger hanya ada satu pertanyaan mendasar dalam filsafat: Seinsfrage, atau pertanyaan menjadi. Akibatnya, Heidegger mengembangkan filosofi di mana ia berpendapat bahwa sifat eksistensi manusia melibatkan partisipasi aktif di dunia, terlepas dari apa yang mensyaratkan partisipasi. Ini dia label "berada di sana," dalam Dasein Jerman.
Kompleksitas bahasa Heidegger adalah legendaris dan mengejutkan - tapi tidak seperti filsuf lain begitu banyak niatnya untuk tidak mencoba dan menggali konsep-konsep yang sangat abstrak, melainkan untuk membuat lebih dimengerti aspek yang sangat langsung dan relevan dari pengalaman sehari-hari hidup kita. Baginya, kesalahan kritis yang dibuat dalam banyak filsafat Barat telah menghapus perbedaan antara manusia dan benda.
Heidegger tidak percaya bahwa orang bisa diperlakukan seperti objek pasif dalam arti filosofis karena tidak seperti benda, manusia hanya bisa menaikkan pertanyaan penting tentang keberadaan dan sifat manusia di tempat pertama. Dengan demikian, manusia harus didekati sebagai mempertanyakan, berpikir makhluk - bukan sebagai hal-hal pasif, terpencil, dan impersonal.
Ketika kita berurusan dengan hal-hal pribadi, kita dapat lebih memahami mereka hanya dengan daftar atribut kunci mereka - dan ini umumnya cukup memadai. Tapi manusia tidak memiliki atribut statis yang penting bagi identitas mereka dan yang dapat mengoceh dalam daftar. Sebaliknya, manusia yang pernah terlibat dalam proses menciptakan dan memahami atribut mereka - sebuah proses yang sifatnya menantang pemahaman mudah dari luar. Hanya mereka segera dan erat terlibat di dalamnya bisa memahaminya, dan itu pun hanya dari perspektif mereka sendiri.
Pada akhirnya, proses ini adalah sesuatu yang tergantung pada kesediaan kita untuk membuat keputusan dan membuat komitmen dalam hidup kita. Kita menemukan diri kita "dilemparkan ke dunia," dan di sini kita harus tetap - tetapi untuk menciptakan kehidupan untuk diri kita sendiri kita juga harus membuat diri kita sendiri, tugas terus menerus yang tidak pernah selesai dan yang selalu konsekuensi dari pilihan yang kita harus membuat setiap hari .
Dalam hal ini, Heidegger sangat bergantung pada filsafat Husserl fenomenologi. Seperti Husserl, Heidegger mengambil sangat serius makna asli Yunani dari kata "fenomena," yang secara harfiah berarti "yang mengungkapkan itu sendiri." Bagi Heidegger, yang secara unik manusia juga yang mengungkapkan dirinya dalam proses yang berkelanjutan pilihan, keputusan , komitmen, dan menjadi. Di sini, meskipun, "menjadi" tidak adanya cukup pasif, melainkan itu adalah keterlibatan aktif dengan dunia - sehingga Dasein Jerman, atau "berada di sana," kadang-kadang diterjemahkan sebagai "kehadiran."
Karena itu, Heidegger berpendapat bahwa bagi seseorang "berada di dunia" bukan masalah lokasi spasial dan temporal, melainkan cara berada - sebuah cara hidup, tidak seperti "jatuh cinta" atau "berada dalam politik "ini. Dunia ini tidak wadah impersonal manusia seperti gelas adalah wadah air, melainkan adalah bidang perhatian manusia di mana kita menemukan dan mengembangkan potensi penuh kami.
Ini pertanyaan dari hubungan intim, pemahaman, mempertanyakan, dan berkembang. Kita menemukan kedua dunia kita dan diri kita sendiri tidak melalui pasif, berpikir abstrak tetapi melalui keterlibatan aktif antara diri kita dan yang kita temukan di tangan. Gagasan ini akan datang dianggap sebagai sumber dasar eksistensialis modern yang berpikir karena filsuf kemudian akan sangat tergantung pada analisis Heidegger tentang hakikat eksistensi manusia yang berkaitan dengan keterlibatan seseorang dengan dunia luar.
Filsafat Heidegger terkadang dibayangi oleh dukungan antusias dia menunjukkan untuk Nazi dan kebijakan pendidikan mereka ketika ia menjabat sebagai Rektor Universitas Freiburg 1933-34. Dia tidak hanya publik dikonversi ke Sosialisme Nasional, namun ia juga sengaja menjauhkan diri dari Husserl, seorang filsuf Yahudi yang ia sebelumnya dikagumi. Karena itu, Heidegger diskors dari semua duites mengajar setelah perang 1945-1950. Hanya pada tahun 1951 yang dia diperbolehkan untuk mengajar lagi dan ia pensiun hanya satu tahun kemudian. Ruang lingkup yang tepat dan sifat simpati Nazi tetap menjadi bahan perdebatan.
Kebanyakan orang saat ini cenderung mengklasifikasikan Heidegger sebagai eksistensialis, meskipun ia pernah secara khusus mengadopsi istilah untuk menggambarkan filosofi sendiri. Selain itu, Heidegger juga menjauhkan diri dari eksistensialisme Sartre karena yang terakhir lebih banyak difokuskan pada sifat dari realitas manusia dari pada sifat Menjadi lebih umum. Memang, ini hanya lebih lanjut menggarisbawahi kesulitan dalam mendefinisikan "eksistensialisme" - bagaimana baik Sartre dan Heidegger menjadi eksistensialis ketika mereka akhirnya setuju pada begitu banyak?


BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN EKSISTENSIALISME
Eksistensialisme adalah filsafat yang mengandung segala gejala dengan berpangkal kepada eksistensi.. Pada umunya kata eksistensi berarti keberaduan, tetapi di dalam filsafat eksistensialisme ungkapan eksistensi mempunyai arti yang khusus. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia. Cara  manusia berada di dalam dunia berbeda dengan cara berada benda-benda. Benda-benda tidak sadar akan keberadaannya, juga yang satu berada di samping yang lain, tanpa hubungan. Tidak demikianlah cara manusia berada. Manusia berada bersama-sama dengan benda-benda itu. Benda-benda itu menjadi berarti karena manusia. Di samping itu, manusia berada bersama-sama dengan sesama manusia. Untuk membedakan dua cara berada ini di dalam filsafat eksistensialisme dikatakan bahwa benda-benda “berada”, sedangkan manusia “bereksistensi”. Jadi, hanya manusialah yang bereksistensi.
Kata eksistensi berasal dari katea eks (keluar) dan sistensi, yang diturunkan dari kata kerja sisto (berdiri, menempatkan). Oleh karena itu, kata eksistensi diartikan menusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Manusia sadar bahwa dirinya ada.[1] Bereksistensi oleh Heidegger disebut Dasein, dari kata da (di sana) dan sein (berada) sehingga kata ini berarti berada di sana, yaitu di tempat. Manusia senantiasa menempatkan diri di tengah-tengah dunia sekitarnya sehingga ia terlibat dalam alam sekitarnya dan bersati dengannya. Sekalipun demikian menusia tidak sama dengan dunia sekitarnya, tidak sama dengan benda-benda, sebab manusia sadar akan keberadaannya itu. Ajaran eksistensialisme tidak hanya satu. Sebenarnya eksistensialisme adalah suatu aliran filsafat yang bersifat teknis, yang terjelma dalam berbagai macam sistem, yang satu berbeda dengan yang lain. Sekalipun demikian ada juga ciri-ciri yang sama, yang menjadikan sistem itu di antaranya adalah sebagai berikut.[2]
Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu, bersifat humanistis.
  1. Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan.  Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya.
  2. Di dalam eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai., yang masih harus dibentuk. Pada hakikatnya manusia terikat pada dunia sekitarnya, terlebih-lebih sesama manusia.
  3. Eksistensialisme memberi tekanan kepada pengalaman yang konkret., pengalaman yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. Heidegger memberi tekanan kepada kematian, yang menyuramkan segala sesuatu, Marcel kepada pengalaman keagamaan dan Jaspers kepada pengalaman hidup yang bermacam-macam seperti kematian, penderitaan, perjuangan dan kesalahan.[3]
Eksistensialisme Menurut Martin Heidegger
Martin Heidegger (1889-1976) di lahirkan di Baden, Jerman, dan mempunyai pengaruh besar terhadap beberapa filosof di Eropa dan Amerika Selatan. Ia menerima gelar Doktor dalam bidang filsafat dalam bidang filsafat dari universitas Freiburg di mana ia mengajar dan menjadi asisten Edmund Husserl (pencetus fenomenologi). Menurut M. Heiddegger, eksistensialisme lebih dikenal sebagai bentuk gaya berfilsafat, pokok utamanya adalah manusia dan cara beradanya di tengah-tengah makhluk lainnya. Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistensialisme. Ia berusaha mengartikan makna keberadaan  atau apa artinya bagi manusia untuk berada. Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan mendasar dalam cakupan wilayah ontologi (ajaran tentang yang berada).[4] Karangannya yang sangat berkesan ialah Being and Time dan Introduction to Metaphysics. Kebanyakan tulisannya membahas persoalan-persoalan seperti “What is being?” (apa maknanya bila suatu entitas dikatakan ada?), “Why is there something rather than nothing at all?” Begitu juga judul-judul tentang eksistensi manusia, kegelisahan, keterasingan, dan mati.
Heidegger sangat kritis pada manusia pada zaman sekarang. Manusia yang hidup pada zaman modern hidup secara dangkal dan sangat memperhatikan kepada benda, kuantitas, dan kekuasaan personal. Manusia modern tidak mempunyai akar dan kosong oleh karena telah kehilangan rasa hubungan kepada wujud yang sepenuhnya. Benda yang konkrit harus ditingkatkan, sehingga manusia itu terbuka terhadap keseluruhan wujud. Hanya dengan menemukan watak dinamis dari eksistensilah, manusia dapat diselamatkan dari kekacauan dan frustasi yang mengancamnya. Seseorang hanya hidup secara otentik sebagai suatu anggota dari kelompok yang hanya tergoda dengan benda-benda dan urusan hidup sehari-hari. Tetapi, jika ia mau, manusia dapat hidup secara otentik dan memusatkan perhatiannya pada kebenaran  yang ia dapat mengungkapkannya, menghayati kehidupan dalam contoh kematian, dan begitu memandang hidupnya dengan perspektif yang  baru.[5] Beberapa Sifat Eksistensialisme
  1. Eksistensialisme pada dasarnya adalah gerakan protes terhadap filsafat barat tradisional dan masyarakat modern.
  2. Eksistensialisme menolak untuk untuk bergabung kepada sesuatu aliran. Mereka menolak watak teknologi totalitarianisme yang impersonal.
  3. Eksistensialisme membahas soal-soal kedudukan yang sulit dari manusia.
  4. Eksistensialisme menekankan kesadaran “ada” (being), dan eksistensi. Nilai kehidupan Nampak melalui pengakuan terhadap individual, yakni “I” (aku) dan bukan “It”.
  5. Eksistensialis percaya bahwa tak ada pengetahuan yang terpisah dari subjek yang mengetahui. Kita mengalami kebenaran dalam diri kita sendiri. Kebenaran tak dapat dicapai secara abstrak. Oleh karena itu, eksistensialis menggunakan bentuk-bentuk sastra dan seni untuk mengekspresikan perasaan dan suasana hati.
  6. Eksistensialisme menekankan individual, kebebasannya dan pertanggungjawabannya.
  7. Seperti Nietzsche, Sartre mengingkari adanya Tuhan. Manusia tidak diarahkan; ia menciptakan kehidupannya sendiri dan oleh sebab itu ia bertanggung jawab seluruhnya atas pilihan-pilihannya.[6]
BAB  III
KESIMPULAN

Eksistensialisme merupakan suatu gerakan protes dan berontak terhadap filsafat  Barat tradisional dan masyarakat modern terhadap pemecahan masalah yang dilakukan mereka. Aliran eksistensialis cenderung menolak watak teknologi dan totalitarianisme yang yang impersonal. Dan lebih menekan individual, kebebasan dan pertanggungjawabannya. Eksistensialis percaya bahwa tak ada pengetahuan yang terpisah dari subyek yang mengetahui. Kita mengetahui kebenaran yang ada dalam diri kita sendiri dan kebenaran tidak capai secara abstrak. Oleh karena ditu, eksistensialis menggunakan bentuk-bentuk sastra dan seni untuk mengekspresikan perasaan dan suasana hati.



DAFTAR PUSTAKA
M. Rasjidi, Persoalan-Persoalan Filsafat, (Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1984).
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: P.T.Bumi Aksara, 1995).
Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta: P.T. Bumi Aksara, 2008).


[1] Harun Hadiwijono, 1990, hlm. 148
[2] Harun Hadiwijono (1990)
[3] Ibid., 1990, hlm. 149
[4] Drs. Surajiyo, 2008, hlm. 118
[5] Prof. H.M. Rasjidi, 1984, hlm. 402
[6] Prof. H.M. Rasjidi, 1984, hlm. 407

0 komentar:

Poskan Komentar